Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

PELANGI. Karya Siswi SMA N 2 Ungaran ( Pngesty Tysna)

Tiupan angin memporak porandakan rambut kemerahan yang semenit lalu disisir rapi. Tatapannya kosong dan bibirnya begitu rapat terkunci. Danisa, seorang anak pembantu tengah menyendiri di bawah atap halte bus. Di tengah-tengah udara yang dingin menggigit kulit hitamnya. Sore yang penuh pikiran kelabuku di benak Danisa.
            “ Kakak sedang apa? Kenapa kakak begitu sedih?” tiba-tiba seorang anak aneh mendekati Danisa.
            Dengan rambut pirangnya dikepang dua, gaun cokelat panjang dan dia membawa seekor kucing kecil
            “ Kau siapa? Kau tak seperti orang dari daerah sini?”
            “ Kakak kenapa? Ceritakan padaku, kita tak saling mengenal, jadi aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak, seperti membocorkan cerita kakak, misalnya”

            Danisa tersenyum. Anak itu menatap Danisa dengan mata berbinar-binar. Sementara kucing kecil di kakinya berputar-putar. Mengelilingi pereglangan kakinya.
            “ Aku ini orang tak punya. Dan aku tak pernah berteman. Aku ingin berbaur dengan teman-teman, tapi mereka orang-orang berada yanag memiliki segalanya. Aku tidak percaya diri mendekati mereka” jelas Danisa
            “ Jadi hanya itu kak?”
            “ Ya, kau tau? Ini Jakarta. Dan tak banyak orang yang sepertiku. Dan beberapa minggu ini hanya kau yang mau berbicara padaku. Mungkin teman-teman memang benar, tak mau melihatku lagi”
            “ Itu tidak benar. Merka tidak menjauhi kakak. Justru kakak yang menjauhi meraka.
            “ Kau jangan sok tahu. Jika memang seperti ini keadaannya, pasti aku lebih baik dari ini.

            Tiba-tiba, anak kecil itu mengeluarkan lukisan yang dilipat kecil di dalam saku gaunnya.  Lukisan pelangi kecil dengan langit yang sangat terang.
            “ Kakak lihat ini?”
            “ Itu pelangi. Pasti ibumu yang menggambarkan ini untukumu. Kau tak mungkin menggambar seindah itu.”
            “ Kakak lihat warna-warni yang ada di pelangi ini? Merah? Jingga? Kuning? Dan seterusnya”
            “ Lalu harus diapakan lukisan ini?” jawab Danisa ketus
            “ Warna merah itu berbeda. Tetapi ketika mereka menjadi satu, indah sekali kan? Bayangkan pelangi hanya memiliki satu warna?”

            Danisa pun tersenyum. Terus menangkap pancaran mata anak aneh itu.
            “ Mungkin kakak memang berbeda dengan yang lain. Tapi ketika kalian menjadi satu, bukankah lebih indah dari satu?”
            Danisa hanya tenang dan kagum melihat anak kecil itu.
            “ Mungkin kakak memang berada di bawah mereka. Seperti warna ungu dari pelangi, dan teman-teman kakak merah, jingga, kuning, dan hijau? Tapi tanpa satu warna, ini bukan pelangi. Semua warna harus berbeda, dan harus ada. Itu pelangi”
            Danisa merasa ada yang menyentuh perasaannya. Anak itu menyadarkan, bahwa berbeda itu sangat penting.
            “ Kau hebat. Aku paham maksudmu!” danisa tersenyum
            “ Berdirilah kak, temui teman-teman kakak. Mereka ada di taman dekat halte ini” anak itu berjalan meninggalkan Danisa
            “ Terima kasih”

            Anak itu menoleh dan mengerlingkan sebelah matanya. Danisa membuka mata.
            “ Tadi hanya mimpi? Mengapa begitu nyata”
            Danisa menemukan dirinya di bawah halte, dengan langit yang gelap, udara yang mulai menghangat. Jam dinding halte menunjukan pukul 7 malam. Ia tertidur. Danisa berdiri dan berjalan perlahan menuju taman kota.
            “ Danisa, kami merindukanmu. Kemarilah. Tak biasanya kau mau menghampiri kami. Kita bisa bermain mala mini” seru Fitri, anak saudagar tinggi yang manis.
            Danisa hanya tersenyum dan mengikuti Fitri. Rasa percaya dirinya tumbuh begitu cepat. Ia memikirkan gadis kecil aneh di dalam mimpinya. Ia bingung, kenapa mimpi itu seolah menjadi kenyataan?

            Kini, ia seperti pelangi yang indah, pelangi yang dikatakan oleh si gadis kecil aneh. Di tengah pemaianan, Danisa menangkap sesosok gadis kecil aneh itu bersama dengan seorang laki-laki seumuran dengannya. Ia melihat mereka jauh di ujung jalan. Di sebuah bangku pinggir jalan. Danisapun tersenyum
            “ Mungkin, gadis itu memang nyata. Dan kini, ia mungkin sedang menumbuhkan semangat pemuda lain” kata Danisa dalam hati.




Jangan Perkosa Aku Lagi, Maya... :(


Tak terlihat tanda-tanda bagaimana “dia” akan datang lagi padaku melalui celah-celah ibu jari kaki, serat-serat kulit kepala, atau ujung kuku jari-jari tanganku. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Tak ada yang membuatku merasa aneh atau bagaimana. Semuanya terlihat bahagia dan sedikit orang yang masih terlihat melawan rasa kantuknya. Beberapa anak laki-laki lebih memilih untuk melanjutkan dzikirnya di dalam masjid, sedangkan perempuannya kembali ke penginapan karena besok pagi masih banyak segudang acara yang akan dilakukan lagi.

Suasana malam semakin mencekam. Terdengar suara seseorang yang menjerit dengan tak sadarkan diri. Tina beteriak kencang dan seluruh tubuhnya seakan dikendalikan oleh makhluk lain yang masuk dalam jiwanya. Matanya melotot ke semua arah tanpa terkecuali. Pandangannya menjadi kosong dan suram. Kaki dan tangannya sengaja kami pegang agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.

Kami mewaspadai sesuatu terjadi lebih parah diantara Yeni dan Tina. Namun dari semua anak laki-laki yang membantu mereka, tak ada satupun yang mampu menyegarkan suasana dan menghentikan keegoisan malam pada diri jiwa mereka. Semuanya membisu. Tak ada yang mampu mengubah keadaan pada sang malam dengan durjana seakan gentingnya suara teriakan merekapun membahana luas diantara keheningan di malam buta.

Aku mencoba membaikkan jiwa-jiwa itu dari kekerasan yang menjelma dalam tubuh Yeni. Ketika itu tubuhnya sangat kuat dan hawa dingin merasuk dalam sendi tulangku. Tak pernah terlintas sedikitpun ketakutan ataupun kecemasan akan sendi-sendi tulangku yang bisa saja merasuk padaku. Yang aku tahu, aku harus mampu dan bisa sedikit demi sedikit menenangkan Yeni. Namun apa daya, tubuhku serasa lunak akan teriakan dan jeritan yang ia lakukan di telingaku. Aku tak mampu menahan amarahku untuk menghantam malam. Aku tak bisa mengubah duniaku menjadi terang se terang bulan malam itu.

“A aarghhh….” Hanya itu yang mampu keluar dari kedua bibirku yang semakin membeku dalam ketabuan malam.

Tubuhku menggiggil. Jiwaku lemah tak berdaya. Hawa panas mulai merasuk melalui pori-pori kulitku. Lalu merasuk melalui sendi-sendi kulit tulangku sampai akhirnya menyebar ke seluruh aliran darahku yang mulai memanas. Aku ingin menahan matahari yang panas itu, namun aku tak sanggup. Aku ingin melawan hawa dingin yang mulai merasuk dalam sukmaku, namun aku tak bisa. Dan aku ingin sekali memberontak sosok di hadapanku dengan sangat kerasnya, namun aku tak berdaya. Aku tak mampu melawan hawaku sendiri. Aku tak sanggup melawanya sendiri. Tubuhku terasa lemah dan lelah.

“ Rina.. rina.. rina bangun. Kamu pasti sanggup melawannya. Dan kamu mampu menahan semuanya. Ayo.. kamu pasti bisa.. kamu pasti kuat… jangan sampai kalah dari dia Rina…”. Aku merasa seseorang membisikkan sesuatu di telingaku.

Aku hanya bisa mengenang peristiwa 8 tahun lalu. Ketika situasi dan kondisi seperti sekarang ini menghantuiku. Ketika tubuhku dikuasi oleh kehadiran sosok yang sampai membuat jiwaku lemah. Semua orang seakan menjauhiku, semua seakan berubah menjadi 1800. Seakan semua keadaan berbalik mencercaku dengan segala carcian kejam. Rasanya ingin sekali aku cepat-cepat berpaling dari kenyataan itu. Aku ingin menghilang dan menghindar dari situasi yang mencekam itu.

Dan kini, peristiwa 8 tahun lalu sekan hadir kembali dalam tubuhku. Peristiwa yang membuat tubuhku tak berdaya. Menjadi lemas, lelah, dan tak terkontrol sama sekali. Peristiwa yang meludahi mimpiku selama bertahun-tahun. Peristiwa yang sampai saat ini masih menggantung jelas di ingatanku. Entah apa yang menjadikan aku seorang budak kerdil yang hanya bisa terkapar lemah tak berdaya. Dikuasai hawa panas yang memberikanku aura hitam. Sampai saat ini, aku sama sekali tak mengerti dengan keadaan yang terus menyiksaku ini. Mengapa aku yang menjadi pelariannya? Mengapa harus aku yang menjadi persinggahannya? Mengapa harus aku juga yang menjadi tempat berbulan madunya? Aku ingin segera bangkit dari keterpurukan ini.

“ Jangan perkosa aku lagi, Maya… cukup masa silam saja kau menyiksaku dengan semua ini. Tapi aku mohon… jangan kali ini.. “ Aku menangis dalam diam

@@@

Denting jam mulai membangunkanku dari tidur panjang, setelah semalaman tubuh dan jiwaku terkuasai oleh aura hitam itu. Aku beralih pandangan ke arah seseorang di dekatku. Hanya ada beberapa orang di sampingku. Hanya ada dia dan dia yang masih setia sekaligus mau mendampingiku sampai aku kembali seperti sedia kala. Aku ingin sekali menggerakkan kedua kakiku, namun rasanya sebuah beton besar menghimpit dan menerkam kedua kakiku dengan sangat kuatnya. Aku coba menggerakkan tanganku, namun rasanya sama seperti ketika aku terkepung ribuan manusia di tengah-tengah padang tandus. Sakit sekali rasanya. Ingin aku beteriak sekencang mungkin untuk mengatakan bahwa tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan. Hanya bibir dan air mata ini yang mampu bicara. Dan mampu memahami kesakitanku kala itu.

Dengan langkah yang terpogoh-pogoh, aku mencoba menguatkan tubuhku hingga sampai saatnya aku bisa berjalan walau tidak tegap dan masih dalam keadaan sempoyongan. Aku benci diriku sendiri. Aku benci “dia” yang tidak melihat dan membaca situasi. Kenapa “dia” datang kembali menggauiliku dengan rasa sakit yang mendalam? Kenapa juga “dia” menerkamku dengan sabitannya yang tajam? Aku tak tahu mengapa. Rasanya ingin sekali aku membunuhnya atau bahkan membuangnya ke neraka.

Semua berjalan dengan sangat baik. Rasa sakitku mulai menghilang. Dan daya pikirku tentang hawa dingin itu sedikit demi sedikit menghilang dari tubuhku. Aku merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam sukmaku. Aku merasa bebas untuk bergerak. Tak ada lagi dua atau tiga aura yang menghantam jiwaku. Dan aku bisa merasakan kebebasan lagi seperti kemarin-kemarin.

Menjelang pukul 23.00 wib aku dan beberapa temanku kembali ke kos setelah beberapa hari ini sibuk dengan persiapan pelantikan. Tubuhku sudah mulai membaik, walau banyak luka lebam di bagian kaki, tangan, dan beberapa bagian lainnya.

Sebuah perjalanan hati dan jiwa yang dipenuhi dengan liku-liku dan kerikil tajam. Hingga membuat tubuhku seakan tak berdaya. Tak punyai kekuatan supra untuk melawan semuanya. Namun malam ini, semuanya sudah ditakdirkan untuk kembali seperti semula.

Terima kasih sejarah yang telah mengajarkan aku tentang makna bersyukur…

PEREMPUAN LIAR


Tak ada kalimat apapun yang mampu menyuarakan inspirasiku tentang ini. Tak ada satu kata indahpun yang mampu mendendangkan bagaimana bahagianya hati ini. Sekalipun itu seribu ungkapan cinta dari sang cinta, aku tak bisa menandingi betapa indahnya perasaan ini. Keluargaku, keluargaku hanya sebuah bangunan kecil yang monumennya tergambar secara gamblang dalam bingkai foto di dinding itu. Senyuman itu sangat menawan. Sangat lepas tanpa beban apapun di guratan-guratan wajah.
Aku memahami arti senyuman lepas itu. Bapak, Ibu, Ilma, dan Aku. Semuanya menawan dan elegan dipandang mewah. Posisi duduk yang mewakili betapa bahagianya keluarga kecil sederhana ini. Setiap hari Bapak harus bekerja menghantarkan barang-barang ke kios yang letaknya sangat dekat dengan pusat kota Cirebon bagian Selatan. Ibu yang sering dibuat pusing dengan segala perhitungan pemasukan atau bahkan pengeluaran keuangan dari hasil usaha keripis melinjo atau emping itu. Sesekali aku dan Ilma adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 3 itu menemani Bapak di kios untuk menyambut para pembeli yang diibaratkan sperti raja. Istilah itu aku dapatkan ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku memberikan mahkota mainannku kepada seorang pembeli yang kebetulan lewat di depan kiosku. Mereka adalah orang-orang Jakarta yang hendak mudik ke kampung halamannya di Rembang. Sebuah peristiwa yang membuatku geli sampai sekarang.
Bapak adalah orang yang sangat tegas, disiplin, dan bijaksana menurutku. Beliau akan sangat marah jika sampai melihat anak-anaknya bermalas-malasan. Sama seperti Ibu yang memiliki sifat keibuan tinggi. Hampir setiap malam, aku tak pernah lepas dari belaian hangat tangannnya sebelum tidur. Sangat memanjakan anak-anaknya, itulah salah satu karakter Ibu yang asli dari Tuban, Jawa Timur. Pernah suatu ketika, Ibu menceritakan awal mula pertemuan Bapak dan Ibu berlangsung.
“ Bapak itu dulunya jutek banget neng, sampai Ibu sendiri sempat benci sama Bapak gara-gara Ibu minta bantuan tapi Bapak jutek banget. Waktuu Ibu dan Bapak masih sama-sama kuliah di Bandung, dan kebetulan kami sama-sama satu jurusan. Wakh, Bapakmu itu jadi rebutan cewe-cewe di kelas.  “ Ibu bercuap-cuap dengan lantangnya
“ Yah Ibu… jutek-jutek begini juga akhirnya Ibu mau sama Bapak kan? Heum.. Bapak kan emang paling ganteng Sha, jadi ya banyak yang suka… “ Bapak tak mau kalah
“ Ya.. ya.. Bapak sama Ibunya Shalsa itu emang paling top banget deh.. “ Aku mulai memanjakan diri dipangkuan Ibu malam itu
Meskipun kesibukan sering melanda keluarga kecilku ini, namun untuk hari sabtu dan minggu khusus digunakan untuk nostalgia ke tempat-tempat wisata sekitar Cirebon dan Kuningan. Bapak sering mengajak kami ke Kuningan mengunjungi temannya di sana. Om Burhan, yang anak laki-lakinya sangat tampan dan sedikit mirip dengan Ridhwan vokalis Langitan di Lamongan. Aku sering sekali mencari perhatian atau curi-curi pandang dengannya. Sikapnya yang ramah juga membuat aku kadang enggan diajak pulang Bapak. Yah, tapi dia memutuskan untuk melanjutkan Kuliahnya di Semarang. Pasti pertemuan antara aku dan dia akan sangat renggang..
“ Kenapa Shal…? Kamu naksir sama Aa Fathur yah… ? “ ledek Ibu suatu hari
“ Nggak ko Bu.. Shalsa ngga naksir sama aa Fathur. Cuma ngepens aja… “ Jawabku dengan logat sundanya yang khas.
Ibu sering meledekku jika berkunjung ke rumah Om Burhan. Jarak usia aku dan Fathur hanya satu tahun. saat ini dia memasuki Kuliah semester awal di Semarang Jurusan Analisis Kesehatan. Sikapnya sangat ramah dan bersahaja. Senyumnyapun sangat menarik.
Beralih ke keluarga kecilku. Usaha kripik emping Bapak sudah berjalan hampir 7 tahun lamanya setelah kami pindah dan menetap di Cirebon. Setelah menikah, Ibu dan Bapak memang menetap sementara di Tuban. Namun setelah kelahiranku, Bapak dan Ibu memutuskan untuk berpindah tempat di Cirebon sampai saat ini. Sebenarnya aku sendiri masih ingin menetap di Tuban, kediaman Nenek dari Ibu yang sampai sekarang masih ada.
Namun, seiring berjalannya waktu dan keadaan, aku semakin merasa banyak perubahan pada diri Bapak yang sangat terlihat akhir-akhir ini. Emosinya sering meledak-ledak tak terkontrol. Semenjak aku mendapati Bapak menerima sebuah panggilan telephon dari seseorang di suatu malam, tingkahnya berubah drastis. Bapak tak selembut dulu, tak sehalus dulu, dan tak sebijak dulu. Ada saja kesalahan kecil yang dibesar-besarkan olehnya. Ibu sampai menangis malam-malam kerena beradu mulut dengan Bapak. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan Bapak dan keluarga kecilku ini. Sempat aku tanyakan perihal perubahan yang dialami Bapak pada Ibu, namun tak ada jawaban pasti darinya. Hanya kalimat sabar.. sabar.. dan sabar saja yang aku dengar dari mulut Ibuku.
Hari terakhir Ujian Nasional, aku sengaja mengajak teman-temanku untuk sekadar menghilangkan penat di otak dengan jalan-jalan mengelilingi sejuknya Obyek Wisata Linggarjati, Kuningan. Udara di sekitar kaki gunung cermai membuat penat di dada kami semakin menghilang. Tak pernah kusangka sebelumnya, akan pandangan mataku. Kalau boleh memilih, lebih baik aku buta selamanya daripada harus menyaksikan seseorang yang sangat aku kenal itu bergandengan tangan sangat mesra keluar dari sebuah mobil berwarna hitam. Plat nomor itu sudah sangat aku hafal di luar kepala. Setiap hari aku mengendarai mobil itu untuk pergi ke sekolah bersama Ilma, Adikku. Mengapa ia tega melakukan semua itu pada kami? Mengapa harus Tante Gisma salah seorang teman Ibu yang pernah berkunjung ke rumah kami? Mengapa harus mereka ada dihadapanku saat ini? Rasanya sakit sekali aku melihtanya. Bagaimana jika sampai Ibu tahu semuanya. Ibu pasti akan drop dan kesehatannya akan menurun lagi. Apalagi akhir-akhir ini darah tinggi Ibu naik terus. Seandainya saja aku punya pisau atau gunting ditanganku, tak segan-segan aku lemparkan ke tubuh laki-laki dan perempuan itu dengan sangat keras. Menyakitkan…
Shalsa.. kamu teh kunaon..? meuni kachicing wae mane mah… “ Hida mengagetkan lamunanku. Bahasa sundanya memang tidak bisa ia hilangkan.
“ Nggak papa ko Dha, kayaknya kau pulang duluan deh yah.. biar nanti aku minta a Doni yang jemput aku aja.. “
Aku dapati selang infuse yang tetes demi tetes mengalir ke tubuh perempuan yang sudah dengan tegarnya Manahan semua permasalahan ini. Aku dekati dan aku peluk perempuan yang sudah berjuang melahirkan aku ke dunia ini beberapa tahun silam. Aku cium keningnya dengan sangat lembut. Aku tak ingin ia tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Kesehatannya semakin drop, ketika ia mendapati ponsel Bapak banyak foto-foto perempuan liar itu. Yah, aku sebut dia perempuan liar yang sudah menhancurkan semua mimpi-mimpiku besama Ibu dan Ilma. Aku sebut dia perempuan liar karena ia sudah lantang masuk ke dalam kehidupan keluarga kecilku.
“ Ibu… “ aku mendekatinya
“ Shalsa, jaga adikmu baik-baik yah… ntos berantem deui.. !!!(Jangan berantem lagi)” Ibu melebarkan senyumnya ke arahku
Aku tahu, a Nirwan mendapat kepercayaan dari Ibu untuk mengurus semua keuangan kios dan kripik emping. Hampir dua hari ini Bapak tak pernah pulang. Entah kemana ia melarikan diri dari semua himpitan masalah ini. A Nirwan bukan orang jauh buat kami. Dia adik sepupu Ibu dari Tuban yang sengaja ikut kami di Cirebon. Saat ini, ia masih berstatus Mahasiswa di Sebuah Universita Swasta d Cirebon. Kerjanya sangat bagus, kata Ibu suatu ketika.
Yah, datang atau tidaknya Bapak sekarang, yang jelas aku sudah tidak memperdulikan semuanya lagi. Biar Allah yang menghukum semuanya. Biar waktu saja yang mejawab bagaimana mutiara yang sudah menjadi serbukan itu akan kembali menjadi mutara yang memiliki nilai jual tinggi. Biar sajalah matahari pagi yang akan memanaskan kehidupan ini dengan sinarnya yang mungkin tak akan sehangat dulu lagi semenjak kepergian Bapak dengan perempuan liar itu. Dan biar sajalah kesejukan kaki gunung cermai yang menjadi saksi bagaimana kahancuran dan kemunafikan itu terjadi dengan sangat singkat. Aku hanya mampu menahan tangisku dihadapan Ibu saja. Dan sebisa mungkin memberikan apa yang mampu aku berikan untuk Ibu dan Adikku, Ilma.


Senin, 22 September 2014

SEBATAS KORELASI

Ini bukan pertama kalinya aku menemukan rembulan itu padam di musim semi. Bukan untuk pertama kalinya aku menemukan rembulan itu dengan raut wajah muram masam. Bukan untuk pertama kalinya juga aku menemukan rembulan cantik itu menuangkan wajah senganya pada malam. Satu minggu lalu, aku dapati tawanya memecah keheningan. Namun, beberapa bulan setelah kejadian tragis itu, aku tak lagi mendapati tawa itu mengembala di ruang rindu. Entah, sejak kapan aku merasakan dingin yang menggeliat riuh.
            Maya, aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Ketika hujan masih menggenang kota udang. Gerimis, entah untuk ke berapa  hujan membasahi keheninganku di musim penghujan ini. Yang pasti, aku belum juga mendapati percikan-percikan api menggenang dalam sukma. Dia bukan sosok pertama yang aku kenal. Ada banyak maya yang setiap malam menemaniku bermimpi. Ada banyak maya yang setiap waktu mendendangkanku sebuah alunan melody romantic milik salah satu grup music ternama di Indonesia. Romantic, maya orang yang sangat romantic. Entah dalam segala hal apapun, ia senantiasa mendendangkan sebuah alunan music yang membuat tidurku menjadi berwarna.
            Hujan kedua di bulan juli, aku mendapatinya duduk termenung di beranda asrama. Sebuah gedung megah yang hampir beberapa tahun ini aku tempati. Sebuah bangunan berwarna putih dengan campuran hijau melekat pada setiap dinding kamar. Kamar dengan segala lukisan kaligrafi yang megah sekaligus menawan. Aku lalui kehidupan di asrama dengans egala keceriaan maya yang berada di sampingku.
            “ Sudah malam, kamu tidak tidur May..?”
            Suatu kali aku mengingatkan maya untuk segera menempatkan diri kembali ke peraduannya bersama beberapa boneka kesayangannya di kamar dengan nomor 3.
            “ Belum ngantuk, sini kamu temani aku. Cuaca malam ini benar-benar membuat aku teringat akan masa-masa indah itu bersama Gana.”
            Gana. Laki-laki yang yang hampir empat tahun lamanya mengabdikan cintanya untuk maya. Laki-laki dengan kulit sawo matang yang hampir beberapa bulan ini membuatnya tersiksa batin. Laki-laki dengan wajah jawa kearab-araban yang hampir satu minggu ini membuat hidup maya berubah 180 derajat. Aneh. Aku tahu betul bagaimana Gana. Dia satu kelas denganku.
            Aku masih teringat. Beberapa hari yang lalu, aku dapati maya dalam keadaan basah kuyup dengan kedua bola mata yang sembab. Wajahnya teramat pucat pasi. Bibirnya membiru. Sakitkah ia? Namun ia masih mampu berbicara dengan nada lembut khasnya. Pandangannya mulai kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya kala itu.
            “ Apa yang kamu lakukan di tempat ini maya? Ini sudah malam. Tidak baik untuk kesehatan kamu. Ayo kita masuk dan tidur saja..” Aku mengutip kalimat lamaku beberapa hari sebelum hari itu terjadi
            Udara pagi ini semakin menguatkan ingatanku tentang sosok maya yang cantik dan lemah lembut itu. Aku merindukannya. Merindukan tawanya yang senantiasa membuat hari-hariku menjadi indah. Rindu dengan sosoknya yang senantiasa mendendangkan sebuah melody indah di tengah malamku. Ia semakin menghilang dari hadapanku. Cahayanya mulai meredup ketika kedatangan sang mentari di terik senja. Cahayanya mulai memudar ketika sosok Gana mendekat dalam keheningannya.
            “Nandini… berapa lama lagi kau akan berdiri di tangga seperti itu? Sudah satu jam lebih loh Nan..” Kinan menghampiriku di senja sore
            “ Satu jam? Baru juga satu menit, Kinan…”
            Aku mulai bernostalgia dengan duniaku sendiri. Pikiranku melayang. Entah putih atau hitam, semuanya berdiri dengan sebuah angan-angan fatamorgana. Tubuhku mulai memanas melebihi kebiasaanku setiap hari. Aku melupakan segalanya demi sebuah bayangan tentang maya. Hampir beberapa hari ini Maya tidak menemuiku lagi. Maya menghilang dari hidupku. Ia hanya menyisakan sebuah foto dengan gelap menyelimuti. Mataku mulai memerah ketika suara Maya menghilang dari hadapanku. Entah, suara atau getarannya saja. Aku masih ingat betul bagaimana Maya menyanyikan sebuah lagu dikala gundah gulanaku
            Gana telah merenggut kebahagiaan gadis dengan bulu mata panjang itu. Sosok laki-laki yang sangat dicintainya itu teah berhasil mengambil secuil nafas dari tubuh Maya. Gana mengambil hak berharga pada Maya yang selama ini ia jaga baik-baik. Dalam sekejap waktu, Maya kehilangan segalanya. Gadis manis itu menghilang dari hiruk pikuk indahnya dunia. Sering aku bertanya pada cacing-cacing yang menggeliat di atas kasur. Sering aku juga mengutip beberapa nafas yang terbaca dalam keheningan malam Maya. Ia telah pergi jauh sebelum semuanya muncul hingga aku sendiri terbawa mimpi-mimpi Maya.
            Wajah Maya sangat cantik. Rambutnya panjanag terurai. Ketika ia berjalan, seluruh makhluk di hadapannya menjadi berbicara. Ketika ia berbicara, seluruh benda dibelakangnya menjadi berjalan indah. Dan ketika matanya membuka keheningan, suara-suara di sekelilingnya menjadi bisu diam tak berkutik. Maya adalah bayangan dimasa laluku yang suram. Aku hentak mencacinya ketika ia hanya terdiam dalam pangkuan sang malam. Aku sering menggunjingnya, ketika ia hanya menangis dalam genggaman malam yang terik. Entahlah, ia hanya gambaran yang mulai mengabstraksikan loyalitas cintanya untuk Gana.
            “ Nandini.. sebenarnya apa yang kamu lakukan di tempat ini? Segala kegiatan kamu lakukan di sini. Di tempat ini. Kamu nunggu siapa?” Sesekali Cici menghampiriku dan mengajakku untuk meninggalkan segala aktivitasku di tempat kumuh ini
            “ Aku menunggu Maya..”
            “ Maya.. Maya.. Maya lagi.. Nandini.. Maya itu nggak ada. Kamu hanya terobsesi dengan Mayamu itu. Lama-lama bisa gila kamu Nan..”
            Aku gila? Mengapa? Aku baik-baik saja. Semua orang menganggapku gila. Aku hanya menunggu Maya dan Maya. Entah , sampai sekarang aku masih belum pernah melihat Maya lagi di sampingku. Ia, di sini dengan gaun putih indahnya. Dengan mata indah bola pingpongnya menghampiriku. Aku masih belum mampu menyaksikan Maya dengan rambut indah panjang terurainya.
            Maya sering menceritakan kisahnya bersama Gana dengan sangat rinci. Terkadang, ia sampai menangis di bahuku dengan nada sendu yang menggeliat. Aku tak tega melihat keadaan Maya yang seperti itu. Hidupnya seakan miris. Tak ada sedikit kebahagiaan dalam hidupnya. Seandainya saja aku mampu, ingin rasanya kau menemui Gana, sosok laki-laki yang telah menghancurkan masa depan dan hidupnya. Dengan merenggut kesucian Maya, Gana membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang keras kepala, dan tak punya perasaan sama sekali. Hatinya licik dan senga. Jijik aku mendengar cerita Maya tentang laki-laki dengan wajah melankolis itu. Seandainya saja aku bisa bertemu dengannya, ingin rasanya aku mencabik-cabik wajahnya yang membosankan itu.
            “ Maya.. maya ada di sini.. aku tidak berbohong mamah… aku melihat Maya.. “ teriakku kala itu
            “ Maya siapa? Di sini tidak ada siapa-siapa kecuali mamah dan papah. Kamu pasti mimpi. Maya tidak ada di sini sayang.. “
            “ Maya… Maya jangan pergi.. aku pasti bantu kamu buat Gana…”
            Aku masih belum mampu memahami bagaimana kerasnya kekejaman sosok Maya dalam hidupku. Hingga air mataku membasahi keheningan malamku. Mungkin aku hanya seonggok awan di tengah musim hujan yang mulai memanas ketika angin menerjangnya. Aku sekecil binatang hitam yang setiap waktu datang dengan gigitannya yang tajam. Entah berapa lama aku mengenal sosok Maya dalam hidupku. Aku semakin gila dibuatnya. Hari-hariku hanya dihabiskan untuk merenung dan memikirkan Maya. Maya yang selama ini memikat darahku dengan kekejaman nuraninya.
            Beberapa hari ini kedua orangtuaku mulai membiasakan diri untuk mengajakku menelusuri jalanan sore dalam kebisingan. Aku mulai membiasakan diri ini menghangatkan kehidupan baruku bersama orang-orang terkasih. Aku hilangkan kebiasakan burukku bersama bayangan Maya. Aku hapuskan kebiasaan burukku dengan memulai dunia baruku bersama teman-temanku. Dan aku hilangkan semua bayangan tentang sosok Maya. Tidak ada lagi Maya yang selama ini menghantuiku dengan segala kemunafikannya.
            Kini aku mulai menapaki jejak baruku dengan segala sesuatu yang bermanfaat. Maya hanya ilustrasiku semata. Aku terlalu berlama-lama memendam kebencian terhadap seseorang yang selama ini membuat hidup maya hancur. Gana. Ia sudah menikah dan memiliki kehidupan barunya bersama orang lain. Dan Maya, ia hanya bayangan masalalunya saja. Kepergian Maya bukan hal baru bagi Gana. Dua tahun setelah perpisahan sekolah itu berlangsung, Maya dikabarkan meninggal akibat kecelakaan tragis yang menimpa kendaraann yang ia kendarai bersama temannya. Banyak  hal yang aku tahu tentang Maya. Tapi hal ini yang baru aku sadari kebenarannya. Maya yang selama ini aku kenal dan sering mendendakan sebuah alunan lagu melankolis itu, ternyata hanya sebuah bayangan hitam yang terus menggangguku. Maya hanya tinggal kenangan saja. Dan aku, aku hanya sebuah alat yang digunakan Maya untuk mengingat semua kenangannya tentang Gana. Maya bukan hanya memberikan sebuah cerita melankolis, namun ia juga memberikan sebuah gambaran betapa jalangnya kehidupan ini.
            Entahlah. Bagaimana sosok  Maya yang sesungguhnya. Aku tak pernah tahu. Karena yang aku lihat adalah sebuah bayangan kosong dengan gaun putih bersih mengkilat. Maya yang dengan rambut panjangnya menembus bayang-bayang semu antara dua dunia.
            Maya.. gadis cantik yang menorehkan sebuah kisah baru dalam hidupku. Maya.. gadis manis yang berhasil melukiskan sebuah kesan baru dalam perjalanan hidupku…

           

SEUTAI KERTAS PERUBAH ROBOT (Lutfi Rokhyatul Mu'asiroh)


“ Cettaarrr….”
            Pecahan kaca itu bagaikan petir yang menyambar tubuhku. Suara yang berhasil mengagetkanku dari lamunan panjangku. Spontan, aku langsung mencari sumber suara itu. Saat berbalik, ternyata hanya sebuah kaca yang pecah entah kenapa. Saat itu, aku sedang asyik melamun di tempat semediku, taman belakang perpustakaan. Taman itu memang taman paling asyik untuk mealamun. Dimana, manusia jarang ada yang melewati atau bahkan singgah di sini. Aku akui, tamannya memang pendiam. Sulit untuk menarik perhatian murid untuk singgah di kursinya. Tapi keistimewaan itulah yang membuatku sering melampiaskan semua masalahku kepada taman itu. Benda mati yang tak bisa memberikan solusi untuk semua masalahku. Tapi, cukup setia untuk menemaniku saat waktu galau.
            Saat itulah aku teringat tentang suatu hal yang masih belum jelas baik atau buruknya. Tapi, aku teingat dengan teman yang dulunya sangat aku benci. Tapi lambat laun, dia adalah best friendku. Karena, saat di tempat itulah aku kali pertama melihatnya. Analah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Walaupun saat pertama kali mengenal dia, hanyalah sebuah kebencian yang pertama ku lihat.
            Siang yang sunyi itu, tiba-tiba ada sebuah pengumuman
            “ Kepada semua siswi kelas x diharapkan masuk ke kelas.”
            Saat jam terakhir, tiba-tiba Ana masuk kelas dan duduk di sampingku. Aku bingung dan kaget saat ia duduk di sampingku. Sok alim, sok pintar, sok natural, itulah Ana yang ku kenal.
            Lambat laun aku mulai berpikir. Kalau ada dia hidupku menjadi teratur. Melihat dia sholat, hatiku bergerak untuk mengikutinya. Pulang sekolah, aku lihat dia pergi ke masjid. Tak sadar, saat itu aku pun mengikutinya. Sampai aku pun ikut sholat.
            “ Kenapa kamu juga di sini?” tanyanya
            “ Emang yang boleh ada di sini hanya kamu?”
            “ Nggak juga sih, ya udah aku minta maaf”
            Tanpa Ana, mungkin aku akan menjadi gula di tengah semut. Dan tanpa Ana, aku akan menjadi sampah di tengah meja. Besok kalau ajalku sudah datang, mungkin kau bisa berterima kasih pada Ana.
            Kulihat ada tulisan di atas meja. Saat kubaca, “Kafir”. Itulah tulisan di kertas itu. Spontan aku langsung berteriak kencang “ Siapa yang berani-beraninya ngatai aku kafir?”
            “ Nggak tau Lin,” serentak teman-temanku menjawab
            “ Mungkin itu dari orang yang membencimu”
            “ Aku yang nulis itu.” Suara seseorang mengagetkanku dari belakang. Aku langsung membalik badan, dan ternyata..
            “ Ana???”
            “ Apa maksudmu?” aku geram
            “ Kau memang kafir kan?” jawab Ana singkat
            Tarrrrr… telapak tanganku langsung mendarat di pipinya.
            “ Sakit Linda!!!”
            “ Itu hukuman bagi orang yang ngatain aku kafir” jawabku sewot
            “ Kamu islam kan?”
            “ Iya”
            “ Lantas, kenapa kamu jarang sekali sholat? Kenapa kamu belum bisa membaca al-quran? Kamu nggak tau kalau itu disebut kafir?” jawabnya dengan nada tegas. Aku langsung lari meninggalkan kelas.
            Taman itu. Lagi-lagi menjadi tempat persandaranku. Aku langsung merenung. Nangis, jika mengingat semua ucapan Ana. Saat itulah aku sangat membenci Ana.
            Jumat, 27 September, tiba-tiba ada seuntai kertas di atas mejaku.
            “ Salahnya perlakukan di dunia, bisa menjadi factor penentu masuk surge atau neraka. Semua manusia di dunia ini ibarat robot yang harus nurut kepada pemiliknya. Kita, manusia hanyalah sebuah robot buatan Allah swt yang harus nurut untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kalau robot salah, pemiliknya akan marah dan senantiasa menghukum yang salah. Sedangkan kalau robotnya menurut, pemiliknya akan memberinya hadiah. Apa kamu tidak lihat banyak orang yang celaka. Dimana orang itu sudah melupakan penciptanya. Kamu tidak takut? Apa susahnya sih kamu nurut sama penciptamu? Unutk yang kemaren, maaf sudah mengatakan ini orang kafir. Aku hanya ingin kamu berubah. Ayo bangun dari mimpi burukmu.
Tertanda : pipi robot yang tertampar”
            Tak sadar, air mataku sudah membasahi kertas itu. Hatiku terketuk saat membacanya. Ketakutan menyertaiku. Neraka atau surgakah yang akan diberikan kepadaku?
            Lagi-lagi aku berlari menuju kamar itu. Taman yang biasa leluasa memarahi diriku sendiri. Ternyata selama aku hidup, aku sudah memesan tiket untuk ke neraka. Dan, mengabaikan tiket untuk ke surga.
            “ Ya Allah, kenapa baru sekarang kau menyadarkanku? Aku harus berterima kasih kepada penulis surat ini”
            “ Ana.. Ana,…Ana..” aku memnaggil penulis surat ini sambil menangis memeluknya
            “ Ana, terima kasih” sambiil memegang tangannya dan melepaskan pelukanku
            “ Kenapa harus berterima kasih? Apa yang telah ku lakukan?”
            “ Karena suratmulah aku bangun. Aku juga mau minta maaf atas segala kesalahanku.”
            “ Sudahlah, yang terpenting adalah sekarang kamu sudah sadar”
            Kami berdua menjadi teman akrab. Dulu, aku belum berjilbab. Tapi semenjak kejadian itu, sekarang aku sudah berjilbab. Kami berdua merupakan pasangan yang sama-sama menyicil membeli tiket masuk surge.
            Semuanya tiba-tiba berakhir, ketika Ana jatuh saat sholat, dan menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu, kami berdua sedang sholat jumat di masjid Al-Ikhlas Ungaran.
            Aku begitu kaget melihatnya.
            “ Ana.. ana.. ana bangun..” hanya tangisan dan penyesalan yang aku lakukan saat itu juga.
            “ Ya Allah.. ada apa dengan Ana? Apa dia sudah berhasil membeli tiketnya?”
            Sore itu, aku dengar keluarga mengunjungi pemakamannya. Hatiku benar-benar terpukul ketika bestfriendku berangkat keluar meninggalkanku sendiri. Semenjak saat itu, aku menjadi tambah semangat untuk melakukan kebaikan. Dan, kenanganku saat bersama Ana adalah sebuah motivasi yang mendorongku untuk menjadi orang yang lebih baik. Sampai sekarang, aku masih mengingat semua kejadian itu.

PESAN TERAKHIR SANG IBU(Karya Siswa SMA 2 Ungaran: Khoirul Umah)


Hiruk pikuk suara binatang ternak yang rupanya telah siap untuk pergi menuju sawah untuk membajak. Para petani berbondong-bondong pergi ke tanah penghidupan serta kemakmuran. Sorak-sorai rerumputan yang menari-nari di tanah pertiwi. Sebagai sambutan pagi sangn penyinar bumi. Dari ufuk timur, ia telah memancarkan sinar cahayanya yang begitu elok, sejuk di hati damai di jiwa.
            Saat ku duduk bersenda gurau dengan adik iparku, terdengar suara khas yang tajam untukku dengarkan dari arah depan rumahku. Seorang saudagar kaya, berenampilan serba mewah, dengan emas dan mutiara. Sering disebut sebagai rentenir rupanya ingin mencari masalah denganku.
            “ Mengapa sibuk-sibuk sekolah menjadi orang sok pintar? Biar menjadi insinyur? Toh perempuan kodratnya jadi ibu rumah tangga. Udah orang miskin, sok pintar, dan satu lagi.. untuk makan saja harus membanting tulang ekstra. Kalo saya sih ngaca ya buk.. siapa saya. Mampukah saya. Hidup itu nggak usah muluk-muluk. Ntar kesannya pamer. Iya kan ibu-ibu..?”
            “ Eh ibu, maaf sebelumnya.. entah kenapa kata-kata anda itu sulit untuk saya cerna maknanya. Maksud ibu apa? Menyindir saya yah? Itu sih udah biasa. Tak ku sangka saudagar yang kaya raya itu merendahkan dirinya sendiri dengan perkataan yang tak bermutu seperti itu.” Sahutku dengan intonasi tinggi
            “ Berani-beraninya anak kecil seperti kau menceramahiku. Kenapa? Kau keberatan dengan omonganku tadi? Heh!!?”
            Aku sama sekali tidak menggubrisnya. Aku tinggal saja mereka. Dan lebih memilih masuk ke dalam rumah dengan adik iparku.
            “ Lintang sudah besar.. sudah harus bisa mandiri. Tidak boleh cengeng seperti itu” suara lirih ibu dari celah dapur mencoba menenagkanku.
            “ Ingatlah nak, Lintang itu bukan anak saudagar kaya yang harus dihormati dan disegani banyak orang. Lintang hanyalah anak seorang buruh tani yang tak berpendidikan”
            “ Apa kau sedang ada masalah dengan saudagar kaya itu nak?” tanya ibu
            “ Iya buk, hanya saja aku tidak terima kalo dia mengolok-olok keluarga kita. Semua orang kan tahu, kalo kita hanyalah orang miskin yang bekerja sebagai buruh tani saja.”
            “ Sudahlah nak, alangkah baiknya jika kau ambil air wudhu dan sholat dhuha untuk menenangkan pikiranmu”
            “ Aku tahu pak, bu, kalo aku ini anak orang muskin. Tapi entah kenapa, kata-kata yang keluar dari mulut orang tua itu benat-benar merapuhkan hatiku. Anak orang miskin belum tentu kelak akan menjadi orang miskin juga kan bu? Pak?”
            “ Maka dari itu, belajarlah yang rain. Agar kau tak seperti bapak dan ibumu. Cobalah matamu dan tengoklah masa depanmu. Di sanalah masa depanmu masih panjang, Nak..” sambung ibu dengan nada lirih
            Jam menunjukan pukul 11.00 siang. Suara sepeda memecahkan lamunan dalam hatiku. Ku buka jendela kamarku.
            “ Ada apa Pakde? Ko buru-buru banget. Ada yang bisa saya bantu?”
            “ Itu, ada orang kota yang sedang mencarimu nduk. Ayolah ke sana”
            “ Siapa Pakde..?” sembari berlari keluar rumah, aku menghampiri Pakde dengan buru-buru.
            “ Entahlah. Ayolah kita ke sana. Kita ke surau. Mereka sudah menunggumu”
            “ Logh, tadi juga ibu pergi ke surau Pakdek. Mungkin mereka sedang bercakap-cakap di sana Pakde.”
            Dengan sepeda bututnya, paman mengayuh sepeda menuju surau. Betapa herannya diriku melihat orang-orang berbondong-bondong ke surau. Tak seperti biasanya, mereka pergi ke suarau siang bolong begini. Aku tercengang dan bertanya-tanya.
            “ Ada apa Pakde? Kenapa wajah pakde berubah pucat begitu?” dengan nada rendah, pakde memlukku erat dan berbisik
            “ Pakde sayang sama kamu, Nak.. ibumu dipanggil oleh Allah untuk menghadapnya”
            “ Pakde jangan berbohong. Ibu tidak sakit. Ibu juga sehat-sehat saja tadi”
            Kulihat jenazah ibuku sudah terbujur kaku dengan selimut panjang dan diselimuti oleh mukenah lengkap berwarna putih bersih
            “ Benarkah ini ibuku? Ibu, mengapa kau begitu cepat meninggalkan aku sendiri?  Belum sempat aku kabulkan keinginanmu untuk memberangkatkanmu pergi haji, kenapa kau lebih dulu dipanggil oleh Allah?” kataku sambil terisak
            “ Pakde dan adikmu masih di sini bersamamu Nak, sekarang kita cari ayahmu untuk mengabarinya yah.. ayahmu sedang di sawah kan?”
            Aku hanya termenung..
            Serasa semua ini hanyalah sebuah mimpi. Dan semakin bertanya-tanya, apakah mimpiku semalam pertanda bahwa ibu akan pergi? Ia berpesan …

“ Lintang anak satu-satunya, kau yang bisa membimbing adik-adikmu. Berikan contoh yang baik untuk adik-adikmu yah.. jaga adik-adikmu dnegan sepenuh hati. Saat ibu meninggalkanmu, Lintang tak boleh bertengkar dengan siapapun. Itu ujian untukmu, Nak. Ketahuilah Nak, Allah itu maha melihat. Allah itu maha mengetahui. Smeua yang kita lakukan aka nada ganjarannya. Maka dari itu, hentikan pertengkaran dengan siapapun yah.. mulailah menata hidup dan fokuskan pada masa depanmu, agar kau sukses dunia dan akhirat..”
            Mungkin itu pesan terakhir dari ibu untukku lewat mimpi. Selamat jalan ibu, aku selalu merindukanmu..

AIRA BERSAMA IMAJINASINYA (Karya Siswa SMA 2 Ungaran: Sofi Alifani)

“ Di seberang sana, sebuah kastil berdiri kokoh. Batu-batu yang menjadi dindingnya menyiratkan kekuatan yang tak terkikis oleh waktu. Di atas sana, terlihat mavis kecil yang termenung menatap kilauan pancaran cahaya bulan di permukaan danau”
            Sepenggal cerpen karya Aira yang ia tulis untuk sebuah tabloid itu. Belum terselesaikan cerpen fantasy itu karena ia masih sibuk mengupdate ke social medianya. Sesekali ia ikut membalas tweet dari teman-temannya. Entah sudah berapa kali ia mengklik tombol retweet  lewat kursor laptopnya.
            Tiba-tiba ada sebuah pesan baru yang masuk. Nama asing bagi Aira. Namun, pesannya begitu menarik..
            “ Mari ikut aku melihat kehidupanku. Seorang Vampire”
            “ Vampire? Mungkin dia terobsesi dengan GGS yang sedang bumin itu” bisi Aira heran
            Rasa kantuk sudah mulai terasa di mata aira. Ia tak kuasa menahan kantuknya.

            “ Mengapa aku berlampukan kunang-kunang? Sejak kapan kamarku berhiaskan batu-batu ini?” pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam benak aira. Hingga akhirnya, ia pun sadar bahwa ia tidak sedang berada di kamarnya.
            “ Hai..” sapa gadis kecil yang berdiri di depan pintu kastil
            “ Kau memanggilku?” tanya aira
            “ Tentu saja aku memanggilmu, karena tidak ada orang lain lagi di sini kan?” gadis itu mendekat
            “ Aku berada dimana?”
            “ Sekarang kakak berada di rumahku. Duniaku. Mari kiut denganku”
            Mereka menuju taman kastil. Dekat danau yang airnya berkilau karena terkena pantulan sinar bulan.
            “ Apakah kau mengenalku?” tanya aira
            “ Sangat” katanya tersenyum
            “ Sungguh? Tapi kemapa kau asing bagiku?” aira semakin bingung
            Sampailah mereka di tepi danau. Persis di pinggir danau. Mata aira tertuju pada cahaya-cahaya mirip kembang api yanag abadi di dekat danau. Tepatnya di tengah hutan.
            “ Apa itu? Oh iya, siapa namamu?”
            “ Namaku Mavis. Aku baru saja berulang tahun ke 117”
            “ Mavis? 117 ?”
            “ Yah, kita sebaya”
            “ Aku ingin melihatnya. Ada pertunjukan apa di sana?”
            “ Di atas sana. Di bukit altar. Banyak vampire yang sedang berlatih sihir. Kau tertarik ke sana aira?” tawar Mavis
            “ Tentu saja. Tapi dengan apa kita menuju ke sana?”
            “ Aku akan memunculkan sebuah perahu kecil untuk kita berdua”
            “ Segera ajak akau ke sana, Mavis!”
            “ Akhirnya kau menyadari siapa diriku?”
            “ Bagaimana ini bisa terjadi?” mata aira menatap erat sosok mavis.
            Gadis nan cantik yang ia deskripsikan dalam ceritanya lewat imajinasi. Aira benar-benar ingat sekarang. Dalam ceritanaya, mavis mengajak seorang cowok pergi ke danau.

            Sepanjang perjalanan ke altar…
            “ Bukan sekedar mengarang, tapi kau menuliskanku dengan tulis”
            “ Apakah ini nyata?”
            “ Tergantung bagaimana kau meyakini perjalananmu” Mavis hanya tersenyum manis
            Sesampainya mereka ke seberang danau, dan akan melanjutkan perjalanan, terlihat seorang laki-laki yang menghampiri aira dan mavis.
            “ Hendak kemana mavis kecil sayang?” tanya laki-laki itu
              Ayah, temanku ingin melihat para vampire melatih kekuatannya”
            “ Maaf mavis, sedang ada pemusnahan vampire di atas sana. Kau tidak akan diijinkan pergi ke sana”
            “ Baik ayah, bawa kami kembali ke kastil dengan cepat, ayah..”
            “ Berpeganglah kalian pada ayah..”

            Secepat hembusan angin, mavis dan aira tiba di kastil kembali. Ayah mavis membuatkan secangkir kopi untuk aira. Segera ia menyeruput kopi hangat dari verosa, ayah mavis.
            Seketika itu dengan aira langsung kabur. Perlahan semua mulai memudar. Tak jelas sama sekali.
            “ Tukk.” Terdengar suara pelas dari arah speaker
            Aira tersadar. Ia tadi hanya bermimpi. Tapi anehnya, ia bisa merasakan ampas kopi di tengggorokannya. Segera ia mengarahkan tombol mouse pada symbol pesan. Ada pesan baru dan sebuah photo.
            “ Kopi tadi  agar kamu tersadar dari duniaku. Percayalah, aku bukan sekedar imajinasimu, Mavis”
            Aira mengklik tombol photo yang ada di bawah pesan. Terlihat photo pemandangan malam danau yang sama persis dengan apa yang ia lihat dalam mimpi tadi…