Minggu, 03 Mei 2015

~~ Langit dan Laki-lakiku ^,^

Kepada engkau, langitku yang tak lernah ingkar janji..
Kau yang acap kali menurunkan benih-benih 
kerinduan pada jiwa-jiwa yang kering keronta..
Kepada engkau, ,,
langitku yang tak pernah berdusta pada embun..
Kau yang sering membawakan rintik-rintik hujan 
sebagai penyemangat perjuanganku..
Hingga aku, mulai memahami betul bagaimana aku harus berjuang 
mendapatkan semua impian kita..
Terimakasih...
Telah menemani dan membawaku hingga jauh seperti ini.

Teruntuk balada 11 maret yang semakin membawa aku menjauh
dari keramaian suka maupun duka dalam kelabu..
Teruntuk salju, yang rintiknya kadang membuat
mawar di perkebunan menjadi semakin layu
sampai ia membuka beranda kesejukannya...

Balada 11 maret yang tertinggal...

Kamis, 18 Desember 2014

Titik...TITIK...Titik...Jodoh

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Jodoh itu unik....
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan.
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan.
Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya.
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya.
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya.
Tapi,
Seberapa yakin kau pada_Nya.
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdir_Nya.
Seberapa besar kau merayuNya.
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya.
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versi_Nya.
Percayalah dengan ayat ini, "..Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al-Baqoroh:216)
Moga Sahabat yang sedang dalam penantian, semakin yakin dengan takdir Allah. Semakin semangat menjemput belahan jiwanya....Aamiin

,Jangan Cemburui Mereka

Sayang...
Hari ini telah aku minum regukkan arak, yang aku dapat dari sahabatku..
Sayang...
Setelah ku lewati malamm hari yang padam lalu, aku mengajak sahabatku bercengkrama.
Sayang...
Ku mohon kau tak mencemburui mereka
Sayang...
Di dalam gelas kaca kuning kemilau itu, aku dan sahabatku tidur nyenyak..
Bahkan, mereka meniupiku dengan lantunan shalawat..
Sayang...
Ketika pagi ini bertabur bunga-bunga indah yang memukau...
Kehormatannku juga tidak ku hiraukan.
Sayang...
Kau tahu?? Ku relakan harta kan musnah jika meminum arak itu..
Kehormatanku yang tinggi ini tidak lagi kusimak..
Jika malam ini tidak mabuk, akab kusia-siakan undangan teman-temanku..
Karena kutahu sifatku yang dermawan...
Sayang...
Lukisan ini adalah genggamanku selama beradabdi negeri suci ini..
Ku mohon kau jangan mencemburui mereka...


Jika Aku Mencintaimu Lagi....

Tulisan ini hanya sebayas fatamorgana saja. Jika kau melihat, tolong hapus pandanganmu. Jika kau membaca, tolong buang kalimat-kalimat tak bermakna. Dan jika kau hendak mengabstraksinya, lupakan saja semua perjalanaan kita dimasa yang lalu.
Khay...
Tentunya kau masih ingat satu bait lagu tentang keabadian, bukan?
"Takan selamanya tangan ku menjagamu". Kira-kira itulah penggalan kalimatnya.
Mungkin kau lupa. Atau bahkan sengaja melupakannya. Tapi percayalah Khay, kalimat itu telah aku ukir di atas air mataku. Aku takan menghapusnya sampai kau benar-benar kembali.
Bismillahirrohmanirrohim... Aku tak akan mengulangi kebodohanku untuk kedua kalinya dengan mencintaimu lagi.


TANPA JUDUL. Sudah, itu saja

Ketika perjuangan berimbas pertikaian...
Ketika pengorbanan berimbas pertengkaran..
Dan ketika pergerakan kita dianggap hanya sebatas permainan saja, maka jejak hujab yang akan menjawabnya.
Bukan dengan berapa banyak tetesannya. Atau juga berapa sering turunnya.
Tapi, ketika kita mulai bisa menghargai kehadirannya, disitulah akan terjawab.
Malam...
Ketika kedua bola mata ini tak terpejamkan hanya untuk memikirkan manusia-manusia titipan Allah.
Siang...
Ketika kedua kaki ini tak bersantai untuk terus mengaspirasikan suara hati para pejuang.
Lalu, tak ada kata-kata atau bahkan laku yang menopang kita.
Kali ini aku menuliskan sesuatu pada kain hijau dan hitam ini. Meski aku bukan siapa-siapa. Tak punya apa-apa. Dan tak bisa apa-apa, namun aku berpikir sejenak. Berpikir bagaimana aku mampu menjaga keelokan dua watna itu.
Lalu aku teriakan tentang sebuah komitmen.
Aku berjuang...Aku berjuang...dan Aku berjuang...
Hai manuisa-manusia yang memiliki intelektual tinggi, pikirkan dahulu sebelum kau bertindak. Cermati dulu kata-katanu sebelum berucap!!!
Agar, tak ada lagi manusia-manusia bodoh yang tersakiti!!!
Insyaallah...
Ini hanya perenungan.
Dan kau memahami bahasa air mataku.

,Aku suka wangi hujan. Karna KAMU.

.Hujan...
.Entah berapa kali hujan turun di kota atlas ini. Aku tak sempat memikirkannya. Aku tak sempat membacanya. Dan aku tak sempat mempedulikannya.
.Sesekali aku mencoba membangkitkan gairahku untuk tetap bersemangat. Tetap menegakkan daguku dengan bangga. Bahwa aku masih memiliki keberanian menatap rintik-rintik hujan itu.
.Pagi...lalu menjani siang. Siang dengan teriknya, lalu berubah sore. Sore yang kemilaunya elok, lalu berubah semakin gelap. Malam.
.Hujan...
.Ingatanku masih segar. Tak ada kecacatan sedikitpun, seperti yang pernah ia katakan padaku. Aku gila. Karena tak bisa beranjak dari masa itu. Dia mengatakan aku bodoh. Karena aku masih belum bisa melihat kenyataan. Dia mengatakana aku lemah. Karena aku tetap menangis ketia menyaksikan dua arogansi dihadapanku.
Akh, itu hanya tentang perspektifnya saja.
.Masih terekam jelas, sangat jelas, dan begitu jelas. Bagaimana hujan kali pertamanya kau meninggalkanku. Tanpa pesan. Tanpa kata. Tanpa pamit. Danpa kejelasan.
.Aku tak menangis. Aku tersenyum dengan satu sisi.
.Aku tersenyum dengan satu kepedihan.
,Yah...
,Ini tahun keempat hujan membasahi pipiku, berlarian dengan tetes demi tetes air mataku.
Ya sudahlah...
Ya sudahlah...
Dia mengatakan dua kata itu berkali-kali.
Baiklah...
Baiklah...
Aku mengakhiri perbincanganku dengan hujan dan kamu.
Kita akhiri cerita ini... Kita akhiri kisah ini dengan keikhlasan.
Hujan...
Dan kamu... Adalah dua keegoisan yang berbeda...